JAM  KERJA  SEKRETARIAT  GEREJA :       Selasa ~ Sabtu : 08.00 - 19.00,  Istirahat : 12.00 - 13.00            Minggu   : Pagi 07.00 - 10.00 , Sore 17.00 - 19.00.             LIBUR setiap Hari Senin dan Hari Libur Nasional           Telp : 6711509

Senin, 23 November 2009

Memahami pesan lambang korona Adven

Memahami pesan lambang korona Adven
(Bacaan rohani: Rumah Mistik dari Nasaret, Buku Legio Mariae, hlm. 142 – 143)

• Sejak jaman dahulu korona dipandang sebagai lambang kemenangan, yang ditaruh atas kepala sang pemenang. Korona Adven adalah tanda penghormatan kita kepada Yesus Kristus, yang pada akhir jaman akan datang sebagai pemenang yang jaya atas kuasa dosa dan maut. Sehubungan dengan itu korona Adven juga dipandang sebagai tanda kesela-matan yang dihasilkan Kristus bagi kita. Hidup kita yang begitu sering terkesan seperti terpecah-belah, dijadikan utuh (bulat) lagi oleh Yesus Kristus. Pada awal tahun liturgis lambang korona Adven ingin mem-buat kita mantap dalam harapan, bahwa kelak hidup kita akan mengalami penyempurnaan sebagai anugerah Tuhan. Biarpun pada tahun yg silam itu banyak kegagalan kita alami, namun melalui keheningan masa Adven dan sakramen tobat, Tuhan dapat membulatkan hati kita untuk mengabdi kepadanya dan sesama dengan semangat baru.
• Korona Adven mesti dihiasi empat lilin (warna ungu atau merah). Angka 4 melambangkan jumlah 4 unsur dunia (tanah, air, udara, api) dan keempat penjuru dunia (Utara, Selatan, Timur, Barat). Jadi, angka 4 (Quadrat) melambangkan segala keteraturan. Pada saat keempat lilin bernyala diungkapkan, bahwa sifat “bulat/lingkaran” dan sifat “quadrat”, artinya hal-hal yang seakan-akan bertentangan, telah menjadi satu. Apa yang tidak dapat disatukan/dilaksana kan oleh manusia, yaitu “quadratur lingkaran”, itu berhasil dilaksanakan oleh Allah, karena bagi Allah tidak ada yang mustahil.
• Kitab Suci menyebut angka 4 di beberapa kutipan:
o Dalam Kitab Kejadian (2,9-14) disebut bahwa di taman Firdaus bersumber empat sungai;
o Di Kitab Keluaran (3,14) Allah mewahyukan diri kepada Musa dengan Nama "AKU ADALAH AKU" ( = YAHWEH), yang dalam bahasa Ibrani ditulis dengan 4 huruf (YHWH).
o Di Kitab Wahyu (4,6-9) digambarkan empat makhluk yang kemudian dalam tradisi Gereja diidentikkan dengan 4 penginjil
(Rupa manusia = Matius; rupa singa = Markus; rupa banteng = Lukas; rupa rajawali = Yohannes).
• Angka 4 melambangkan juga persiapan untuk mengalami transformasi/ perubahan lahir-batin. Selama 40 tahun umat Ibrani mengem-bara di padang gurun, sebelum mereka bisa memasuki Tanah Perjanjian. 40 hari lamanya Yesus hidup di padang gurun untuk mem-persiapkan diri akan tugas pewartaan Kerajaan Allah. 40 hari dibutuhkan para murid Yesus untuk membiasakan diri dengan kehadirannya sebagai yang bangkit, sebelum ia naik ke surga. Manusia membutuhkan 40 tahun untuk menemukan jati diri yang sejati melalui pergumulan rohani dalam “midlife crisis”.
• Lilin menjadi sumber terang yang sangat simbolis, dibandingkan dengan segala macam “spot-light”. Terang lilin itu hangat, tidak tajam. Dalam terang lilin kita dapat lebih mudah mawas diri dan me-nempatkan diri di hadirat Allah. Terang lilin juga menghangatkan, memenuhi hati kita yang sering terasa dingin karena egoisme itu dengan kehangat kasih ilahi. Terang lilin sepertinya menjanjikan, bahwa terang kasih Kristus makin menerangi dan menghangati hati kita.
• Lilin bernyala terdiri dari dua unsur:
- api yang melambangkan kerohanian yang berorientasi “ke atas”; tentang para rahib di padang gurun diceritakan, bahwa pada saat doa tangan mereka berubah menjadi nyala api yang mengarah ke surga;
- lilin yang makin menghabiskan diri karena terbakar/meleleh. Terang lilin adalah “hasil” pengorbanan diri. Maka kita diajak untuk jangan segan-segan mengorbankan waktu dan tenaga kita, sehingga sesama manusia mengalami kehangatan yang berasal dari Allah.
- Sejak jaman Gereja Perdana lilin melambangkan Kristus yg sungguh manusia (lilin) dan sungguh Allah (api). Jadi lilin Adven mengingatkan kita akan misteri agung yang dirayakan pada Malam Natal: Allah menjadi manusia dan tinggal di antara kita (Yoh 1,14).

Tidak ada komentar: